Akhir-akhir berdampak pada siswa, tapi juga pada guru

Akhir-akhir ini, banyak
sekali perilaku anak-anak sekolah yang semakin memprihatinkan. Mulai dari SMA,
SMP, bahkan anak SD banyak yang memiliki perilaku negatif yang menjurus pada
kenakalan remaja. Bahkan, orang tua mereka pun kurang peduli dan kurang
mengawasi anak-anaknya. Pemerintah pun berusaha mengurangi perilaku negatif
anak sekolah dengan menambah jam belajar sekolah menjadi 8 jam sehari. Banyak
pihak yang kurang setuju dengan kebijakan tersebut. Hal tersebut juga akan saya
bahas dalam tulisan ini.

1.2
Tujuan

Your time is important. Let us write you an essay from scratch
100% plagiarism free
Sources and citations are provided


Get essay help

Tujuan dari penulisan ini
adalah untuk mengetahui pentingnya belajar 8 jam sehari bahkan lebih dan
mengetahui dampak kebijakan tersebut pada perilaku remaja jaman sekarang.

1.3
Pertanyaan

Apa pengaruh kebijakan belajar
8 jam sehari pada perilaku remaja?

II.
Isi

Pada bulan Juni 2017,
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menerbitkan Peraturan
Menteri tentang 8 jam belajar di sekolah dalam sepekan. Kebijakan tersebut
bukan hanya berdampak pada siswa, tapi juga pada guru tidak tetap yang digaji
di bawah standar. Banyak juga guru yang kurang setuju pada kebijakan tersebut. Bayu
Prihastantao, salah satu guru tidak tetap di SD IV Wonosari, Gunungkidul,
merasa keberatan dengan kebijakan full day school selama 5 hari. Sebab,
kebijakan itu akan membuat lama mengajar semakin lama dan tidak sebanding
dengan honor yang dia dapat setiap bulan. Bayu mengaku mendapat honor per bulan
Rp 300.000 dari sekolah ditambah tunjangan dari pemerintah Rp. 150.000 per
bulan yang diterima 3 bulan sekali. Honor sebesar itu tak cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidup. “Dengan kondisi ini saya harus bekerja di sektor lain seusai
mengajar. Jika harus menunggu sampai sore, bagaiman pekerjaan saya yang lain.
Sementara jika mengandalkan honor sekolah jelas tidak memungkinkan,” katanya,
Selasa (13/6/2017). Selama ini ia membuka warung makan lesehan di pusat kota
Wonosari. Setiap pukul 05.00 WIB, ia sudah mempersiapkan dagangan, lalu
dilanjutkan mengajar. Sementara dari pihak siswa, kebijakan tersebut juga
membutuhkan penyesuaian lebih dahulu. Kepala SMPN 1 Saptosari, Suyanto,
mengatakan, butuh penyesuaian yang lebih lama karena fokus belajar juga
berkurang. “Untuk anak didik perlu penyesuaian dalam metode belajar, karena
siang hari fokus belajar akan berkurang,” ulasnya. Menurut pendapat saya
sendiri, kebijakan tersebut sudah sewajarnya dilakukan karena siswa tidak hanya
diajarkan melalui buku saja, melainkan juga diajarkan pendidikan karakter.
Selain itu, kebijakan tersebut pasti akan mempengaruhi karakter siswa dan
mengurangi adanya perilaku kenakalan remaja. Namun, kebijakan tersebut juga
memiliki kekurangan seperti adanya kelelahan yang dirasakan murid akibat 8 jam
sekolah ditambah dengan tugas-tugas yang diberikan guru di sekolah. Di luar
semua itu, saya setuju dengan kebijakan tersebut karena perkembangan teknologi
yang semakin maju, akses internet yang semakin mudah yang membuat murid-murid
dapat belajar di manapun dan kapanpun. Dengan perkembangan teknologi yang
semaju ini, seharusnya para murid dituntut lebih rajin lagi untuk persiapan di
masa depan yang lebih sulit dan persaingan yang ketat.

III.
Kesimpulan

Kebijakan yang dilakukan
pemerintah sebenarnya baik jika para murid dapat melakukannya dengan efektif.
Kebijakan tersebut akan berjalan dengan baik jika guru dan siswa menjalankan
hal tersebut dengan ikhlas tanpa memikirkan dampak negatifnya.

 

Saran

Guru dan orang tua harus
bisa mengawasi murid dan anak-anaknya dengan baik, sehingga dapat membentuk
karakter yang baik dan mengurangi perilaku kenakalan remaja.