Nama interdependensi yang berkaitan dengan power bukanlah hal

Nama
              : Anitta Hayatun Nufus

Kelas
              : LA66

Your time is important. Let us write you an essay from scratch
100% plagiarism free
Sources and citations are provided


Get essay help

NIM                : 2001537922

Subject
           : Modern Theories of
International Relations

Critical Review
Power and Interdependence
“Realism and Complex Interdependence”

Robert O. Keohane
Joseph S. Nye

Power and Interdependence
Realism and Complex Interdependence

Konsep interdependensi yang berkaitan dengan power bukanlah hal
baru di bidang hubungan internasional. Secara sederhana, interdependensi
diartikan sebagai saling ketergantungan. Dalam politik internasional,
interdependensi dipengaruhi oleh efek timbal balik dari berbagai Negara atau
antara aktor-aktor dari berbagai Negara.”…interdependence provides a
rational, strategic incentive for states to continue cooperating with one
another”(Keohane 1984). Beliau menyebutkan bahwa konsep saling ketergantungan
memberikan suatu hasil yang pasti, dimana dalam konsep ini ada strategi yang
dapat mendorong negara untuk terus bekerja sama satu sama lain. Kemudian kerjasama
atau interaksi ini dapat dipandang sebagai tantangan bagi otoritas dan otonomi
pemerintah nasional yang tidak lagi dapat mengendalikan hasil atau mendapatkan
kepentingan dengan menjalankan kebijakan secara sepihak.

Dalam artikel yang berjudul Power and Interdependence oleh Robert
O.Keohane dan Joseph S.Nye, mereka percaya bahwa asumsi politik realis dan
teori yang didominasi pada periode pasca perang tidak memadai untuk
menganalisis politik dari interdependensi. Kemudian penulis mencoba untuk
membangun suatu konsep lebih ideal tentang power yang diterapkan pada hubungan
internasional dengan didasarkan pada konsep interdependensi itu sendiri. Mereka
menyebut konsep barunya dengan sebutan Complex Interdependence. Konsep
ini mulai dikembangkan oleh Robert O.Keohane dan Joseph S.Nye sejak tahun
1970an. Ini menjadi tantangan besar bagi asumsi realisme dikarenakan konsep ini
sangat bertentangan dengan sudut pandang mereka yang berfokus pada kemampuan
militer dan ekonomi dalam menjelaskan perilaku negara. Sebaliknya, Complex
Interdependence menyoroti munculnya aktor transnasional dalam kaitannya
dengan Negara. Fokusnya yaitu kepada bangkitnya pemerintahan dan institusi
internasional yang mengimbangi kemampuan militer tradisional dan terbentuknya
suatu kebebasan berdagang dalam masalah kebijakan luar negeri yang dicocokkan
dengan masalah isu keamanan suatu Negara.

Keohane dan Nye berpendapat bahwa di era interdependensi sifat
hubungan internasional telah berubah dan dunia menjadi semakin saling
bergantung dalam segala hal terutama ekonomi. Kemudian mereka beranggapan bahwa
teori interdependensi mencoba menyatukan perspektif realis dan liberal. Dimana teori
ini tidak ingin menyangkal perspektif realisme melainkan justru mengangkat
kekhawatiran bahwa kadang-kadang muncul situasi tertentu dimana adanya suatu
asumsi / penjelasan realis tidak memadai. Karena secara umum interdependensi
adalah situasi didunia politik dimana semua aktor termasuk negara bagian dan
aktor non-negara, saling bergantung satu sama lain. “Dependence means a
state of being determined or significantly affected by external forces.
Interdependence, most simply defined, means mutual dependence. Interdependence
in world politics refers to situations characterized by reciprocal effects
among countries or among actors in different countries.”(Keohane& Nye
1977)

Interdependensi tidak hanya diartikan sebagai perdamaian dan
kerjasama antar aktor, namun interdependensi juga diartikan sebagai hubungan
antara aktor yang ditandai dengan kerja sama, ketergantungan, interaksi di
sejumlah wilayah yang berbeda, dan demikian pula konflik. Aspek yang penting
dari Complex Interdependence adalah dalam konsep ini adanya kombinasi
dari dua pandangan berlawanan. Konsep ini memadukan antara kekuatan dari
politik dan ekonomi dari liberalisme. Dalam dunia Complex Interdependence
terlepas dari meningkatnya kerjasama ekonomi dan saling ketergantungan
ekologis, kemungkinan konflik militer internasional tetap tidak bisa diabaikan.
Namun, hal ini tidak seperti politik kekuasaan realisme dimana mereka
menganggap bahwa konflik militer nasional dipandang sebagai zero-sum game.

Pada dasarnya konsep Complex Interdependence memiliki 3
karakter utama yaitu,

(1) Multiple
channels. Merupakan suatu jalur yang
menghubungkan antar Negara(formal atau nonformal), organisasi internasional,
korporasi transnasional, birokrasi, dan masyarakat(individu atau kelompok).
Dalam situasi ini dapat dilihat bahwa Negara tidak lagi menjadi aktor
satu-satunya dalam hubungan internasional.

(2) Multiple
issues. Merupakan perpaduan antara
berbagai macam isu high politics dan low politics. Dimana isu tersebutlah yang
akan menjadi fokus oleh aktor. Dalam hal ini, tidak adanya susunan yang jelas
atau hirarki secara konsisten, sehingga tidak ada satu isu yang akan
mendominasi. Pada akhirnya, semua isu dianggap menjadi penting dan perlu
dipertimbangkan karena akan mempengaruhi suatu kebijakan dari domestik maupun
luar negeri.

(3) Minor role
of military forces. Dimana kekuatan
militer tidak lagi digunakan sebagai instrument utama oleh pemerintah terhadap
negara lain. Karena dalam situasi ‘Complex Interdependence’ Negara
saling berhubungan melalui suatu mekanisme dialog dan kerjasama. Walaupun
kekuatan militer masih tetap diperlukan untuk pertahanan dan keamanan Negara,
namun kekuatan militer kini menjadi jalan pilihan terakhir karena ini dianggap
tidak relevan untuk digunakan.